Anak Kampung Kihung Berjuang Sekolah Seberangi Dua Sungai

0
69

Bandar Lampung – Senyum tersungging di wajah ibu-ibu dan anak-anak Kampung Kihung, Kelurahan Sukarame Dua, Kecamatan Telukbetung Barat, Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung.

Wajah mereka sumringah melihat rangka besi yang terangkai di atas dua sungai, membelah perbatasan Kampung Batu Putu, Bandar Lampung.

Rangka besi itu adalah rangka jembatan gantung yang sedang dalam pengerjaan.

Tim Vertical Rescue sibuk merangkai material untuk membuat jembatan gantung.

Jembatan gantung ini dibuat untuk menghubungkan Kampung Kihung dan Kampung Batu Putu yang terpisah dua sungai, yaitu Sungai Way Betung dan Sungai Kuripan.

Kehadiran jembatan gantung ini sudah ditunggu warga Kampung Kihung sejak lama.

Pasalnya, jembatan ini sangat berguna sebagai akses bagi anak-anak ke sekolah. Anak-anak Kampung Kihung bersekolah di SDN 1 Batu Putu.

Letak sekolah yang berada di kampung seberang membuat mereka harus menyeberangi dua sungai setiap pergi dan pulang sekolah.

“Ya kalau berangkat ke sekolah harus angkat sepatu supaya tidak basah,” ujar Riko Nanda Saputra (12), siswa kelas 6 SDN 1 Batu Putu, pada Kamis, 31 Desember 2020.

Ada jalan lain untuk menuju sekolah. Namun mereka harus menempuh jarak lumayan jauh sekitar 2,5 kilometer, dengan medan menanjak dan licin saat hujan.

Jika ditempuh dengan jalan kaki memakan waktu 15 menit.

Tak ingin memakan waktu lama, anak-anak Kampung Kihung lebih memilih menyeberangi dua sungai menuju sekolah.

Menurut Ketua RT 08 LK 1 Kampung Kihung, Suparno, semua warganya menyekolahkan anak-anaknya di SDN 1 Batu Putu, karena hanya itulah sekolah yang paling dekat dengan kampungnya.

“Saat ini ada 30 anak yang sekolah di sana,” ujarnya saat ditemui.

Yang ditakutkan Suparno, jika terjadi banjir di sungai. Ini bisa menghambat anak-anak ke sekolah.

“Kalau banjir mereka digendong orangtuanya menyeberangi sungai menuju sekolah. Ada juga yang ke sekolah naik motor. Tapi tidak semua warga di sini punya motor. Jadi, mau tidak mau nekat menyeberangi sungai,” urainya.

Bagi Suparno, keberadaan jembatan gantung ini sangat penting untuk memudahkan akses anak-anak ke sekolah.

Koordinator Vertical Rescue Lampung M Kariskun mengatakan, keterlibatan timnya dalam pembangunan jembatan gantung di Kampung Kihung untuk membantu masyarakat setempat.

“Kami tergerak membangun jembatan disini karena anak sekolah,” ujarnya. Rencananya jembatan gantung ini dibangun sepanjang 70 meter dan lebar 120 cm.

Jembatan ini nantinya bisa dipergunakan warga pejalan kaki dan sepeda motor untuk menyeberang.

Vertical Rescue adalah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pembangunan jembatan gantung.

Lembaga ini diisi relawan-relawan pecinta alam. Di Lampung, Vertical Rescue sudah membangun 14 jembatan.

“Di Bandar Lampung, ini yang pertama,” kata Kariskun.

Wilayah lainnya yaitu di Kabupaten Pesisir Barat satu jembatan, Pringsewu dua jembatan, Lampung Timur satu jembatan, Tulangbawang satu jembatan, Pesawaran enam jembatan, Lampung Tengah satu jembatan dan Lampung Selatan satu jembatan.

Ada tiga faktor yang menjadi prioritas Vertical Rescue dalam membangun jembatan di suatu wilayah. Yaitu akses pendidikan, kesehatan dan ekonomi.

Kariskun berharap dengan adanya jembatan gantung ini anak-anak tidak perlu susah-susah lagi menyeberangi sungai menuju sekolahnya. (Jef)